--> JENDELA JATENG DIY | Deskripsi Singkat Blog di Sini

Berbagi Informasi Menarik Mengenai Jateng dan DIY

Rabu, 08 Maret 2023

Inilah Sosok Bhre Sujiwo, Penguasa Kesepuluh Mangkunegaran Yang Masih Berusia Muda

Inilah Sosok Bhre Sujiwo, Penguasa Kesepuluh Mangkunegaran Yang Masih Berusia Muda


Kadipaten Mangkunegaran adalah sebuah Kadipaten otonom yg pernah berkuasa di wilayah Yogyakarta dan Surakarta sejak 1757 sampai sekarang. 

Penguasanya adalah bagian dari Wangsa Mataram, yg dimulai dari Mangkunegara I (Raden Mas Said). Meskipun berstatus otonom yg sama dg tiga kerajaan pecahan Mataram lainnya, penguasa Mangkunegaran tidak memiliki otoritas yg sama tinggi dg Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Penguasanya tidak berhak menyandang gelar Susuhunan ataupun Sultan, melainkan Adipati.

Sejak didirikan lebih dari 250 tahun yg lalu, Mangkunegaran telah banyak berganti pemimpin. Saat ini, Kadipaten tersebut telah dipimpin oleh Mangkunegara generasi kesepuluh atau Mangkunegara X.

Mangkunegara X sendiri belum lama dilantik, yaitu pada Maret 2022 atau sekitar satu tahun yg lalu. Sosok pemangku jabatan tertinggi tersebut juga masih tergolong muda, karena lahir pada 29 Maret 1997 atau berusia belum genap 25 tahun saat dilantik.

Namanya adalah Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo, S.H. Sebelum menjadi Adipati, ia bergelar Gusti Pangeran Harya (GPH.). Dan setelah dilantik, gelarnya pun menjadi Sampeyan Dalem Ingkang Jumeneng Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara X.

Bhre Sujiwo ditetapkan sebagai penerus tahta Kadipaten Mangkunagaran ke-10 pada tanggal 1 Maret 2022 dan dinobatkan tanggal 12 Maret 2022, atau bertepatan dg Sabtu Pahing, 8 Ruwah 1955 Alip, dalam penanggalan Jawa.

Ia merupakan putra dari KGPAA Mangkunegara IX yg mangkat pada 13 Agustus 2021. Adipati kesepuluh tersebut adalah putra kedua (bungsu) dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IX dan Gusti Kanjeng Putri Mangkunegara IX. 

Dari silsilah garis ibu, ia merupakan cucu dari Letnan Jenderal TNI (Purn.) Yogi Supardi yang merupakan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia Untuk Jepang Ke-10 (1987-1991), Pangdam XVI/Udayana (1972-1974), dan Sekjen Departemen Pertahanan dan keamanan (1983-1987).

Menurut riwayat pendidikannya, Penguasa muda tersebut berhasil mendapatkan gelar Sarjana Hukum (S.H) setelah menamatkan pendidikan Strata 1 (S1) Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada tahun 2019 lalu.


Referensi:
• "Mangkunegara X - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas" https://id,m,wikipedia,org/wiki/Mangkunegara_X.
• "Kadipatèn Mangkunagaran - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas" https://id,m,wikipedia,org/wiki/Kadipat%C3%A8n_Mangkunagaran.

Jumat, 20 Januari 2023

Syekh Maqdum Wali, Mubaligh Utusan Demak Bintoro Di Pasir Luhur

Syekh Maqdum Wali, Mubaligh Utusan Demak Bintoro Di Pasir Luhur


Dari deretan Makam 'Ulama atau Waliyullah yg ada di Kabupaten Banyumas, Makam Syekh Maqdum Wali Purwokerto termasuk makam yg paling dikenal oleh masyarakat.

Biasanya, jika ada rombongan asal Banyumas yg hendak berziarah ke luar kota, baik itu Walisongo atau yg lainnya, mereka terlebih dahulu ke Makam Syekh Maqdum Wali, sebagai rute wajib yg harus diziarahi.

Secara administrasi, Makam Syekh Maqdum Wali berada di kawasan Desa Pasir Kulon, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas. Letaknya yg berada di dekat Kota Purwokerto, menjadikan banyak orang mengenalnya sebagai Makam Syekh Maqdum Wali Purwokerto.

Untuk rute menuju Makam, bisa dibilang cukup mudah diakses dibandingkan beberapa Makam Wali lain di Banyumas. Dari Jalan Raya Nasional, peziarah yg berasal dari arah barat, diarahkan untuk belok ke Utara, setelah menemui Jembatan Sungai Logawa. Jika dari arah timur, peziarah diarahkan untuk belok ke Utara, dg patokan Monumen Pangsar Soedirman. 

Makam Syekh Maqdum Wali berada di tepi Jalan yg namanya diambil dari nama Makam, yaitu Jalan Syekh Maqdum Wali. Jalannya cukup lebar, sehingga bus-bus besar pun dapat mengaksesnya. Akses yg mudah tersebutlah yg jadi salah satu alasan Makam ini banyak dikunjungi.

Komplek pemakaman cukup luas dan megah. Lingkungan sekitarnya pun banyak ditumbuhi pepohonan, sehingga serasa begitu asri. Kios-kios pedagang ditempatkan di tempat khusus di luar komplek, sehingga nampak begitu teratur.

Walaupun terdapat cukup banyak makam di sekitar komplek pemakaman, tercatat ada 3 Makam utama yg biasanya jadi tujuan utama para peziarah. Makam tersebut adalah Makam Syekh Maqdum Wali, Senopati Mangkubumi I (Adipati Banyak Belanak), dan Senopati Mangkubumi II (Adipati Banyak Galeh).

Untuk Syekh Maqdum Wali sendiri, makamnya berada satu liang lahat dg Senopati Mangkubumi II, dan terletak di dalam bangunan pendopo. Sedangkan Senopati Mangkubumi I, makamnya berada di sebelah Utara di luar bangunan pendopo. 

Namun, pendapat lain yg beredar menyebut jika yg di dalam bangunan pendopo merupakan Makam dari Pangeran Mangkubumi I. Sedangkan yg di sebelah Utara bangunan pendopo merupakan Makam Syekh Maqdum Wali dan Pangeran Mangkubumi II.

Dalam sejarahnya, Syekh Maqdum Wali merupakan seorang mubaligh asal Demak Bintoro yg diutus Raden Patah untuk berdakwah di Pasir Luhur. Sedangkan Senopati Mangkubumi I dan II merupakan tokoh kakak beradik, murid Syekh Maqdum Wali yg menjadi Adipati Pasir Luhur, dan ikut membantu dakwah Islam disana.

Cerita singkatnya, kala itu Pasir Luhur menjadi sebuah wilayah Kadipaten yg dipimpin oleh Adipati Banyak Belanak, dg patihnya yg bernama Patih Wirakencana atau Banyak Galeh. Keduanya diketahui merupakan keturunan kelima (canggah) dari Raden Kamandaka (Banyak Catra), seorang tokoh yg banyak disebut dalam cerita rakyat Banyumasan.

Kemudian, Syekh Maqdum Wali datang ke Pasir Luhur bersama 2 orang Patih, yaitu Patih Hedin dan Patih Husein. Dalam berdakwah, Syekh Maqdum Wali menggunakan cara yg damai. Maka tidak heran, jika Adipati Pasir Luhur pun menerimanya dg baik. Bahkan, Sang Adipati yg sebelumnya beragama Buddha pun berhasil masuk Islam.

Setelah masuk Islam, Adipati Banyak Belanak beserta keluarganya turut membantu dakwah Islam di daerah Pasir Luhur. Karena jasanya tersebut, Adipati Banyak Belanak dipanggil menghadap Sultan Demak, dan digelari Senopati Mangkubumi.

Selain itu, Dalam dakwahnya, Syekh Maqdum Wali juga pernah mendirikan Pesantren bernama Ambawang Gulo Gemantung (Harumnya Buah Mbawang yg dipadu dg gula dan digantung). Sehingga, dilihat dari namanya, siapapun akan tertarik untuk menyucup ilmunya.

Setelah Adipati Banyak Belanak wafat, putranya yg bernama Banyak Thole meneruskan kepemimpinan ayahnya di Pasir Luhur.

Namun sepeninggal ayahnya, Banyak Galeh justru murtad atau keluar dari Islam. Ia juga berseberangan dg pamannya, Patih Banyak Galeh.

Tidak hanya itu, Banyak Thole juga membangkang terhadap Kesultanan Demak yg kala itu dipimpin oleh Sultan ketiganya, yaitu Sultan Trenggono.

Banyak Thole beserta pasukannya yg masih setia, mencoba menyerang Demak. Namun, karena kekuatan yg tidak berimbang, Pasukan Demak pun dapat mengatasi pemberontakan tersebut.

Banyak Thole kemudian melarikan diri dari Pasir Luhur. Dalam suatu riwayat, disebutkan jika Banyak Thole pergi sampai ke daerah Petanahan, Kebumen, hingga wafatnya.

Karena kekosongan kekuasaan, Sultan Demak mengangkat Patih Banyak Galeh menjadi Adipati Pasir Luhur dg gelar Senopati Mangkubumi II. Oleh Banyak Galeh, pusat pemerintahan dipindah ke timur laut Sungai Logawa. Nama Kadipaten pun diubah menjadi Kadipaten Pasir Bathang.

Dan adanya beberapa Desa atau Kelurahan dg nama Pasir di daerah Kecamatan Karanglewas dan Purwokerto Barat saat ini, tentunya memperkuat bukti ontentik keberadaan Pasir Luhur dan Pasir Bathang di daerah tersebut.

Terkait sejarah singkat diatas, diketahui jika Syekh Maqdum Wali merupakan seorang penyebar Agama Islam yg sejaman dg era Walisongo, yaitu sekitar Abad ke-15 hingga 16.

Menurut penulis, Dibandingkan beberapa Waliyullah lain di Kabupaten Banyumas, seperti Syekh 'Abdusshomad Jombor, Syekh Maqdum Wali juga bisa dikatakan sedikit lebih tua. Dg patokan, Syekh Maqdum Wali berdakwah pada era Kesultanan Demak, sedangkan Syekh 'Abdusshomad Jombor berdakwah pada era Kesultanan Pajang atau awal berdirinya Kabupaten Banyumas.

Wallahu A'lam Bish-Showab..



Referensi:
• https://infopurwokerto.com/makam-syekh-maqdum-wali/.
• "Sejarah Singkat Makam Syekh Makdum Wali dan Pangeran Senopati Mangkubumi Astana Pasir Luhur Karang Lewas - Kompasiana.com" https://www.kompasiana.com/amp/nurauliaputri-9784/6397e88197ff4f39a83d2e23/sejarah-singkat-makam-syekh-makdum-wali-dan-pangeran-senopati-mangkubumi-astana-pasir-luhur-karang-lewas.
• "Pelesiran: Menziarahi Makam Syekh Makdum Wali | Chubbi Syauqi - Marewai" https://marewai.com/pelesiran-menziarahi-makam-syekh-makdum-wali-chubbi-syauqi/.
• "Tabloid Pamor - Pertahankan Budaya Bangsa" https://www.tabloidpamor.com/index-2.php?view=news&syekh-makhdum-wali-astana-ambawang-gula-gumantung&PMR=VFZSRmR3PT0=.


Senin, 16 Januari 2023

Pangeran Martapura, Raja Mataram Islam Yang Hanya Menjabat Selama Satu Hari Satu Malam

Pangeran Martapura, Raja Mataram Islam Yang Hanya Menjabat Selama Satu Hari Satu Malam


Kerajaan Mataram Islam atau yg juga dikenal sebagai Kesultanan Mataram adalah sebuah Kerajaan yg pernah berdiri pada abad 16 - 18 atau sekitar tahun 1586 - 1755.

Raja atau Sultan yg pernah memerintah dalam kurun waktu tersebut, dimulai dari  Danang Sutawijaya atau Panembahan Senopati sebagai pendiri sekaligus Raja pertama Mataram, sampai dg Pakubuwono II

Raja terbesar yg mengantar Mataram menuju puncak kejayaannya adalah Raden Mas Jatmika atau Raden Mas Rangsang atau Sultan Agung. Ia memerintah pada tahun 1613 - 1645 (sekitar 32 tahun).

Namun, ada sejarah yg tidak banyak diketahui publik mengenai Mataram Islam. Salah satunya adalah adanya Raja sementara yg hanya berstatus Raja selama satu hari.

Adalah Raden Mas Wuryah atau Pangeran Martapura. Ia merupakan putra dari Panembahan Hanyakrawati (Raja Mataram kedua) dg Ratu Tulungayu dari Ponorogo.

Pada awal-awal pernikahannya dg Ratu Tulungayu (saat masih jadi Adipati Anom/Putra Mahkota), Panembahan Hanyakrawati belum juga dikaruniai putra. 

Padahal, ia sudah terlanjur berjanji jika dirinya menjadi Raja, maka kedudukan Adipati Anom akan diberikan kepada putra yg dilahirkan Ratu Tulungayu.

Akhirnya, ia menikah lagi dg Dyah Banowati, putri Pangeran Benawa, Raja terakhir Pajang. Dari Dyah Banowati atau yg kemudian bergelar Ratu Mas Hadi, Panembahan Hanyakrawati dikaruniai putra-putri, diantaranya yaitu Raden Mas Rangsang (Sultan agung) dan Ratu Pandansari (istri Pangeran Pekik).

Namun, setelah sekitar 4 tahun Panembahan Hanyakrawati menjadi Raja, Ratu Tulungayu ternyata melahirkan seorang putra yg kemudian diberi nama Raden Mas Wuryah. 

Padahal, kala itu Panembahan Hanyakrawati telah menetapkan Raden Mas Rangsang sebagai Adipati Anom yg kelak meneruskannya sebagai seorang Raja.

Walaupun Ratu Tulungayu sudah melahirkan Raden Mas Wuryah, menjelang wafatnya, Panembahan Hanyakrawati berwasiat agar Raden Mas Rangsang lah yg tetap diangkat menjadi Raja jika ia sudah wafat.

Keputusan tersebut ternyata salah satunya didasari atas Ramalan Panembahan Bayat (penasehat spiritual Keraton), yg menyebut jika Raden Mas Rangsang kelak akan membawa kejayaan Mataram.

Namun, Panembahan Hanyakrawati juga tetap memegang erat janjinya untuk menjadikan Raden Mas Wuryah sebagai Raja Mataram penerusnya.

Oleh karena itu, sebelum wafat, Panembahan Hanyakrawati juga berwasiat agar Raden Mas Wuryah dijadikan sebagai Raja sementara, sebagai bentuk keteguhannya dalam memegang janji. 

J.P. Coen (kepala perdagangan VOC kala itu) menyebut jika peristiwa penyerahan tahta tersebut terjadi saat Raden Mas Wuryah masih berumur sekitar 8 tahun dan Raden Mas Rangsang berusia 20 tahun.

Karena menderita sakit ingatan, Raden Mas Wuryah yg baru menjadi raja selama satu hari satu malam tersebut, akhirnya turun tahta. Dan kedudukan sebagai Raja akhirnya diberikan kepada Raden Mas Rangsang (Sultan Agung) sesuai wasiat Panembahan Hanyakrawati sebelumnya.


Referensi: 
Buku Babad Tanah Jawi Karya Soedjipto Abimanyu.



Gagak Rimang, Kuda Hitam Yang Temani Akhir Hayat Arya Penangsang

Gagak Rimang, Kuda Hitam Yang Temani Akhir Hayat Arya Penangsang


Dalam Sejarah yg membahas tentang Tokoh Arya Penangsang, biasanya nama Kuda Gagak Rimang selalu disebut. Pasalnya, Kuda inilah yg telah menemani Arya Penangsang sampai pada akhir hayatnya.

Seperti yg telah kita ketahui, Arya Penangsang tewas setelah bertarung dg Sutawijaya. Kala itu, Arya Penangsang sedang menunggang Kuda Gagak Rimang miliknya di dekat Sungai Bengawan Sore. Dan kebetulan Sutawijaya juga menunggangi kuda (betina).

Alhasil, Gagak Rimang yg merupakan kuda jantan pun akhirnya tertarik dg kuda Sutawijaya hingga birahi, dan memaksa untuk menyebrangi Sungai dalam keadaan Arya Penangsang yg terus bertarung dg Sutawijaya.

Kuda Gagak Rimang terus saja bergerak tidak mau tenang. Akhirnya, Usus Arya Penangsang pun terburai keluar karena perutnya berhasil terkena tombak Kyai Plered yg dipakai Sutawijaya. Walaupun begitu, Arya Penangsang masih saja melanjutkan pertarungan. 

Namun naas, saat hendak mengeluarkan Keris Setan Kober miliknya, mata keris justru merobek ususnya sendiri yg ditautkan pada wrangka keris. Alhasil, ia tewas seketika.

Dalam sejarah singkatnya, konon asal-usul kuda Gagak Rimang adalah kuda milik Riman. Riman sendiri adalah anak Soreng Pati, Penggede di Desa Kasiman. Konon kuda tersebut menghilang pada saat tuannya, yaitu Riman bertarung melawan Siman, anak Soreng Rangkut, Penggede di Desa Sambeng.

Arya Penangsang sendiri, menemukan Kuda tersebut saat sedang jalan-jalan memeriksa keadaan di sebuah daerah dg rerumputan segar. Kuda hitam tersebut mendekati Arya Penangsang dg jinaknya. 

Akhirnya, Arya Penangsang pun merasa tertarik untuk memilikinya, dan berusaha mencari keberadaan sang pemilik. Karena pemiliki kuda bernama Riman, serta memiliki bulu hitam layaknya gagak, maka Kuda tersebut dinamakannya sebagai Kuda Gagak Riman. Dan nama Riman lambat laun terucap Rimang hingga sekarang. 


Referensi:
"Legenda Kuda "Gagak Rimang" | Serba-Serbi Blora Raya Potret Blora" https://www,potretblora,com/2019/03/legenda-kuda-gagak-rimang,html.

Minggu, 15 Januari 2023

Goa Jomblang, Indah Namun Pernah Jadi Tempat Pembuangan Orang PKI

Goa Jomblang, Indah Namun Pernah Jadi Tempat Pembuangan Orang PKI


Gunungkidul adalah sebuah Kabupaten yg ada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sesuai namanya, geografis Kabupaten ini memang didominasi wilayah yg bergunung-gunung atau berbukit-bukit.

Karena wilayahnya yg demikian itu, Kabupaten terluas di Daerah Istimewa Yogyakarta ini juga diimbangi dg wisata alamnya yg melimpah. Salah satunya adalah Goa Jomblang.

Goa Jomblang berada di Padukuhan Jetis Wetan, Kalurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dilihat dari lokasinya, lokasi Goa ini berada di Kecamatan atau Kapanewon yg bersebelahan dg Ibukota Gunungkidul, yaitu Wonosari.

Goa Jomblang termasuk dalam Goa Vertikal atau Goa yg mulutnya berada di atas. Goa ini terbentuk akibat proses geologi amblasnya tanah beserta vegetasi yg ada di atasnya ke dasar bumi ribuan tahun yg lalu. Oleh karena itu, bentuknya menyerupai Sumuran atau Luweng dalam Bahasa Jawa. Sehingga, Goa ini disebut juga dg Luweng Jomblang.

Untuk turun memasuki serta menapaki dasar Goa, pengunjung harus menggunakan tali yg cukup memacu adrenalin. Kedalaman Dasar Goa pun bervariasi, mulai dari sekitar 15 meter hingga sekitar 80 meter.

Hal menarik utama yg bisa pengunjung temukan saat masuk ke dasar Goa Jomblang adalah dapat melihat sinar cahaya yg begitu terang pada waktu cerah tengah hari (sekitar 11.00-12.00 WIB). Selain itu, di dalam goa ini juga menjadi tempat konservasi berbagai tumbuhan purba, sehingga tampak menyerupai sebuah hutan purba.

Namun, dibalik keindahannya, ternyata Goa Jomblang memiliki sejarah kelam. Pada masa-masa Partai Komunis Indonesia (PKI), konon Goa yg pernah jadi tempat pengambilan gambar Amazing Race Amerika Serikat ini, dipakai sebagai lokasi pembunuhan massal para anggota yg dicap PKI.

Menurut cerita, pembunuhan tersebut dilaksanakan secara berkelompok berjejeran di bibir goa serta tangannya saling terikat satu sama lain. Maka dari itu, jika salah satu orang tertembak jatuh, yg lainnya pun akan ikut terjatuh ke dasar Goa.


Referensi:
• "Kisah Kelam di Balik Indahnya Goa Jomblang - Citizen6 Liputan6,com" https://m,liputan6,com/citizen6/read/2392975/kisah-kelam-di-balik-indahnya-goa-jomblang.
• "Tiket Masuk Goa Jomblang Gunung Kidul Yogyakarta | Rute Lokasi" https://garasijogja,com/cahaya-surga-di-goa-jomblang-gunung-kidul-jogja/.
• "Gua Jomblang - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas" https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gua_Jomblang.


Sabtu, 14 Januari 2023

Asal-Usul Nama Ajibarang Dalam Versi Jaka Mruyung Dan Amangkurat I

Asal-Usul Nama Ajibarang Dalam Versi Jaka Mruyung Dan Amangkurat I


Ajibarang adalah nama sebuah Kecamatan di Kabupaten Banyumas. Kecamatan ini cukup banyak dikenal oleh banyak orang dari luar daerah karena dilewati Jalan Nasional yg ramai.

Selain itu, nama Ajibarang juga sering digunakan sebagai nama Jalan Nasional yg menghubungkan Kecamatan Ajibarang di Banyumas dg Kecamatan Secang di Magelang. Maka dari itu, Jalan Nasional 9 Jawa Tengah disebut juga sebagai Jalan Ajibarang-Secang.

Di beberapa tempat, ada pula nama daerah yg memiliki nama mirip dg Ajibarang. Salah satunya adalah Kecamatan Jatibarang yg terletak di Kabupaten Brebes. Kecamatan ini sama-sama berakhiran -barang di belakangnya.

Dalam sejarahnya, ada 2 versi cerita yg banyak beredar di masyarakat mengenai asal-usul penamaan Ajibarang. Versi pertama menyebut jika nama Ajibarang berasal dari nama hutan Pakis Aji yg dibabat oleh Jaka Mruyung.

Dalam cerita singkatnya, Jaka Mruyung merupakan putra dari Adipati Galuh Pakuan. Ia dibawa oleh kawanan perampok dari Gunung Mruyung, saat kawanan tersebut mengobrak-abrik Kadipaten Galuh Pakuan. Konon, nama Jaka Mruyung sendiri diberikan berdasarkan nama Gunung tersebut.

Beranjak besar, Jaka Mruyung mengembara dan belajar berbagai ilmu, salah satunya kepada Ki Meranggi. Setelah beberapa waktu, ia mendapatkan Ilham untuk melanjutkan mengembara ke arah timur.

Dan sampailah Jaka Mruyung di sebuah hutan yg bernama Hutan Pakis Aji, hutan bagian dari wilayah Kadipaten Kutanegara. Kemudian, bersama dg para penduduk sekitar, ia membabat hutan Pakis Aji menjadi sebuah pemukiman. 

Singkat cerita, Jaka Mruyung kemudian dinikahkan dg salah seorang putri Adipati Kutanegara. Dan setelah Sang Adipati wafat, Jaka Mruyung pun diangkat menjadi Adipati. Ibukota Kadipatennya pun dipindah di lokasi Hutan Pakis Aji yg pernah ia babat. 

Dari nama Pakis Aji, lambat laun menjadi Ajibarang, dan Kadipaten pun ikut berubah nama menjadi Kadipaten Ajibarang. Selain Ajibarang, beberapa wilayah di barat Ajibarang saat ini, konon juga diambil dari cerita perjalanan Jaka Mruyung. 

Sedangkan versi kedua menyebut jika nama Ajibarang diberikan oleh Amangkurat I, Raja Mataram Islam saat dalam perjalanan dari Kedu menuju daerah Tegal.

Cerita singkatnya, dalam perjalanan jarak jauh tersebut, banyak prajurit yg harus meninggal. Hal ini karena persediaan bekal mulai habis, namun perjalanan yg ditempuh masih jauh.

Dan setibanya di suatu tempat, abdi setia Amangkurat I yg bernama Kyai Pancurawis, berusaha menjual barang-barang bawaan untuk ditukar dg bahan-bahan makanan sebagai bekal untuk melanjutkan perjalanan. 

Ternyata, barang-barang yg dijajakan berhasil terjual habis, sehingga rombongan pun dapat mendapatkan perbekalan untuk meneruskan perjalanan. Melihat hal tersebut, Amangkurat I sangat senang, hingga ia menamakan wilayah tersebut dg nama Ajibarang, yg berarti barang apa pun yg dijual di sana, ada ajinya atau harganya.


Referensi:
"WIED PATIKRAJA: Asal Muasal Nama AJIBARANG (antara Legenda & Mitos)" http://wiedpatikraja,blogspot,com/2010/08/asal-muasal-nama-ajibarang,html?m=1.


Kamis, 12 Januari 2023

Ki Ageng Gribig, Tokoh Waliyullah Klaten Dibalik Tradisi Apem Ya Qowiyyu

Ki Ageng Gribig, Tokoh Waliyullah Klaten Dibalik Tradisi Apem Ya Qowiyyu


Ki Ageng Gribig merupakan salah seorang 'Ulama penyebar Agama Islam di Pulau Jawa ratusan tahun yg lalu, yg makamnya kini berada di daerah Jatinom, Klaten, Jawa Tengah.

Di samping makam Ki Ageng Gribig, terdapat beberapa tempat lain, diantaranya Masjid Agung Jatinom dan Sendang Palampeyan, Sendang Suran dan Guwa Belan, Masjid Tiban dan Oro-oro Tarwiyah (tempat dimana Ki Ageng Gribig menanam yg dibawanya dari Arofah, Mekkah).

Ki Ageng Gribig biasanya diidentikkan dengan tradisi rutin tahunan di Jatinom, yaitu acara sebaran kue apem, yg diberi nama Apem Ya Qowiyyu. Apem sendiri merupakan kata serapan dari bahasa Arab, yaitu "Affan", yang bermakna Ampunan. Sedangkan Ya Qowiyyu berasal dari doa Kyai Ageng Gribig sebagai penutup pengajian yang berbunyi: "Ya qowiyyu Yaa Aziz qowina wal muslimin, Yaa qowiyyu warzuqna wal muslimin”.

Tradisi Apem Ya Qowiyyu (Antara Foto/Aloysius Jarot Nugroho)

Apem Yaqowiyyu tersebut sampai sekarang diperingati menjadi upacara adat di Jatinom yang diselenggarakan setiap tahun pada hari Jumat, sekitar tanggal 15 Bulan Sapar dalam penanggalan Jawa, berlokasi di dekat makam Ki Ageng Gribig. Tujuan diadakannya acara sebaran kue apem itu agar masyarakat selalu memohon ampunan kepada Sang Pencipta.

Untuk asal-usul atau silsilah Ki Ageng Gribig, terdapat beberapa versi yg beredar. Versi pertama menurut Tim Dinas Pariwisata Kabupaten Klaten, menyebut jika beliau adalah cucu Raja Brawijaya dari Majapahit, putra R.M Guntur atau Prabu Wasi Jolodoro. 

Ki Ageng Gribig dalam versi ini disebut sebagai 'Ulama penyebar Agama Islam di daerah Jatinom, Kabupaten Klaten, pada masa Kerajaan Mataram Islam.

Sedangkan Versi kedua menurut Museum Masjid Agung Demak, Prof. Dr. Hasanu Simon dan sumber sependapat lainnya, menyebut jika Ki Ageng Gribig sebenarnya adalah Maulana Muhammad Al-Maghribi.

Oleh orang Jawa, Nama Maghribi lebih mudah diucapkan sebagai Gribig, hingga namanya pun terkenal sebagai Ki Ageng Gribig. Beliau berasal dari daerah Maghrib (Maroko) serta disebut-sebut termasuk dalam Dewan Walisongo angkatan pertama yg datang ke Pulau Jawa. Beliau wafat pada era sebelum Kerajaan Demak berdiri, yaitu tahun 1465 Masehi.


Referensi:
• Buku Walisongo / Rachmad Abdullah.
• "Makam Ki Ageng Gribig - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas" https://id,m,wikipedia,org/wiki/Makam_Ki_Ageng_Gribig.


Sejarah Penggunaan Keris Beronce Pada Pengantin Pria Jawa

Sejarah Penggunaan Keris Beronce Pada Pengantin Pria Jawa

Dalam pernikahan adat Jawa, kita seringkali melihat mempelai pria mengenakan pakaian adat yg dilengkapi sebuah keris yg terselip di pinggangnya. Keris tersebut diperindah dg tambahan lilitan ronce bunga melati di bagian werangkanya.

Setiap bagian dari adat Jawa, pasti memiliki filosofi dan sejarahnya tersendiri. Termasuk dalam hal ini adalah Keris Beronce yg ada pada pakaian pengantin pria Jawa. Lantas, bagaimana sejarah dan filosofi di dalamnya?

Penggunaan accesories Keris Beronce pada pakaian pengantin pria Jawa, konon mulai dipakai oleh Ki Juru Mertani (penasehat Sutawijaya/pendiri Mataram Islam) saat putranya menikah.

Alasan Ki Juru Mertani menyelipkan tambahan Keris Beronce pada pakaian pengantin pria Jawa, karena ia terisnspirasi Arya Penangsang saat sedang bertarung melawan Sutawijaya.

Ilustrasi Arya Penangsang Melawan Sutawijaya (ceritarakyatnusantara.com)

Saat itu, Tombak Kyai Plered yg digunakan Sutawijaya berhasil mengenai lambung Arya Penangsang. Alhasil, Arya Penangsang pun terluka hingga ususnya terburai keluar.

Melihat kondisi tersebut, Arya Penangsang menautkan ususnya yg terburai pada sarung atau werangka Keris Setan Kober miliknya, dan melanjutkan pertarungan. Namun naas, saat ia mengeluarkan Keris untuk menghabisi Sutawijaya, mata kerisnya justru mengenai dan memotong ususnya yg ia tautkan pada werangka. Akhirnya, Arya Penangsang pun tewas terkena senjatanya sendiri.

Ki Juru Mertani yg menyaksikan kejadian tersebut, lantas terinspirasi akan keberanian dan kegagahan Arya Penangsang. Ia pun kemudian menambahkan accesories Keris Beronce, yg filosofinya agar pengantin pria bisa tampak lebih gagah dan berani seperti Arya Penangsang yg tetap berjuang meski dalam kondisi yg terluka.


Referensi:
"Ini Asal-Usul Mempelai Pria Mengenakan Keris Beronce Melati Dalam Pernikahan Adat Jawa" https://jogjakartanews,com/baca/2015/10/24/3407/ini-asal-usul-mempelai-pria-mengenakan-keris-beronce-melati-dalam-pernikahan-adat-jawa.
Mengenal Baju Surjan, Pakaian Adat Jawa Peninggalan Sunan Kalijaga

Mengenal Baju Surjan, Pakaian Adat Jawa Peninggalan Sunan Kalijaga

Jawa merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia. Maka tidak heran jika di dalamnya terdapat banyak jenis kebudayaan khas, mulai dari bahasa, rumah adat, pakaian, makanan, dan kesenian.

Salah satu budaya khas Jawa dalam hal pakaian adalah Surjan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Surjan memiliki arti Baju Jas Laki-laki khas Jawa, berkerah tegak, berlengan panjang, terbuat dari bahan lurik, atau cita berkembang.

Dalam sejarahnya, Surjan merupakan Pakaian adat Jawa yg konon diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Kata Surjan sendiri disebut-sebut berasal dari Bahasa Arab, Sirajan, yg memiliki arti Pepadang atau Pelita.

Surjan juga disebut sebagai Pengagem Taqwa atau Pakaian Taqwa. Hal ini karena selain sebagai identitas budaya, Surjan juga memiliki makna dan filosofi yg dalam, yaitu mengenai sifat-sifat ideal dalam hubungan manusia dg Sang Pencipta maupun manusia dg sesama manusia.

Selain itu, setiap bagian dari Surjan juga terdapat filosofinya tersendiri. Misalnya Bagian leher Surjan yg memiliki kancing 3 pasang. Kancing 3 pasang atau 6 biji kancing tersebut melambangkan Rukun Iman yg ada 6.

Ada pula 3 buah kancing bagian dalam (bagian dada dekat perut) yg letaknya tidak kelihatan atau tertutup. 3 buah kancing tersebut melambangkan 3 macam jenis nafsu manusia yg harus diredam.

Selain itu, ditambahkannya 5 kancing yg terdapat di bagian lengan panjang kanan dan kiri, melambangkan Rukun Islam yg berjumlah 5 yg harus dilaksanakan setiap muslim.

Bagi masyarakat awam, mungkin mengenal Baju Surjan hanya satu macam. Sebenarnya, Baju Surjan sendiri memiliki berbagai macam jenis, diantaranya yaitu Surjan Lurik dan Surjan Ontrokusumo.

Surjan Lurik (Shutterstock)

Surjan Ontrokusumo (Tepas Tendha Yekti)

Surjan Lurik memiliki motif yg sesuai namanya, yaitu Lurik atau garis-garis. Dan biasanya, Surjan Lurik lah yg sering dipakai oleh masyarakat umum. Sedangkan Surjan Ontrokusumo memiliki motif bunga (Kusuma), dg bahan yg dipakai biasanya aalah kain sutra. Dan Untuk Surjan Ontrokusumo  sendiri diperuntukkan bagi para bangsawan.


Referensi:
• "Surjan - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas" https://id,m,wikipedia,org/wiki/Surjan.
• "Makna, Sejarah, dan Filosofi Pakaian Adat Jawa Surjan – rebowagen,com" https://rebowagen,com/2022/11/makna-sejarah-dan-filosofi-pakaian-adat-jawa-surjan/.



Rabu, 11 Januari 2023

Syekh Nur Hakim, 'Ulama Besar Banyumas Era Abad Ke-19

Syekh Nur Hakim, 'Ulama Besar Banyumas Era Abad Ke-19


Syekh Nur Hakim merupakan salah seorang tokoh 'Ulama atau Waliyulloh pejuang penyebar Agama Islam yg makamnya berada di Kabupaten Banyumas.

Karena berada di lingkungan orang Jawa, maka Syekh Nur Hakim lebih akrab disebut dg Mbah Nur Hakim atau Kyai Nur Hakim. Hal ini dibuktikan juga dg adanya nama Jalan Kyai Nur Hakim di lokasi yg tidak jauh dari Makamnya.

Makam Kyai Nur Hakim masuk dalam wilayah Desa Pasir Wetan, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas. Dilihat dari alamat tersebut, lokasinya memang tidak jauh dari Makam Syekh Maqdum Wali. 

Letak Makam Kyai Nur Hakim berada di dekat pematang sawah yg begitu luas di seberang anak Sungai Penasalan. Secara akses, untuk menuju lokasi Makam terbilang sulit, terutama untuk kendaraan besar.

Dari Jalan Kyai Nur Hakim, di tengah pemukiman padat Desa Pasir Wetan, pengunjung atau peziarah diarahkan untuk ke arah Utara memasuki gang yg hanya cukup untuk akses satu mobil roda empat. Dan jika telah berada di pertigaan (patokannya kolam renang), peziarah tinggal lurus saja 'mentok' ke Utara hingga sampai ke lokasi Makam.

Sebagaimana umumnya Makam Auliya' lain di Indonesia, Makam Kyai Nur Hakim pun dibuat lebih menonjol dari Makam lain di sekitarnya. Makamnya dibangun seperti cungkup, namun tidak memiliki atap alias terbuka atasnya.

Di sekitar Makam Kyai Nur Hakim, terdapat banyak Makam santri, keluarga, kerabat, ataupun penduduk sekitar. Suasana di komplek Makam ini juga terlihat lebih njawani dg adanya bangunan pendopo Jawa dg beberapa ruangan khusus.

Dilihat dari jumlah peziarah, Makam Kyai Nur Hakim memang tidak seramai Makam-makam Auliya' lain di daerah Banyumas. Kebanyakan peziarah berasal daerah sekitar (Pasir) serta Cikakak (Wangon). 

Padahal, jika dilihat dari riwayatnya, Kyai Nur Hakim termasuk 'Ulama paling berpengaruh di Banyumas pada masanya. Lantas, siapa sebenarnya Kyai Nur Hakim?

Prasasti Makam (Dokumen Pribadi)

Pada Prasasti yg tertulis di dekat pintu masuk Makam, dijelaskan jika Kyai Nur Hakim atau yg bernama asli Raden Mas Surya Muhammad ini wafat pada Malam Sabtu Pahing, 27 Juni 1891 Masehi.

Dari tahun tersebut, diketahui jika Kyai Nur Hakim hidup di era yg lebih tua dibandingkan beberapa Waliyullah lain di Kabupaten Banyumas, seperti Syekh 'Abdul Malik Kedungparuk yg lahir pada tahun 1881, atau 10 tahun sebelum wafatnya Kyai Nur Hakim.

Untuk silsilahnya sendiri terdapat beberapa versi pendapat. Versi pertama yg dijelaskan oleh juru kunci Makam menyebut jika Kyai Nur Hakim merupakan seorang bangsawan Kasunanan Surakarta.

Hal ini diperkuat oleh sebuah sejarah percakapan antara Kyai Nur Hakim dg mertuanya, Demang Nurahman I. Dalam percakapan tersebut, mertuanya menawarkan Kyai Nur Hakim untuk menjadi Demang. Namun, Kyai Nur Hakim menolaknya, dg alasan jika mau jabatan, beliau bisa saja menjadi seorang Sinuwun di Kasunanan Surakarta.

Versi kedua yg merujuk pada Buku Sejarah Kota Poerwokerto (1832-2018) karya Prof. Sugeng Priyadi, dijelaskan jika Kyai Nur Hakim lahir di Pancasan, Ajibarang pada 1818 Masehi. Dijelaskan juga jika beliau merupakan menantu Demang Nurahman I sekaligus saudara ipar Demang Nurahman II.

Jika benar Syekh Nur Hakim lahir pada tahun 1818 Masehi, maka bisa dipastikan jika beliau seangkatan dg Syekh Kholil Bangkalan yg lahir 2 tahun setelahnya atau pada tahun 1820 Masehi.

Kyai Nur Hakim banyak mengisi masa mudanya untuk memperdalam Agama Islam ke berbagai wilayah. Salah satu gurunya yg terkenal adalah Kyai Hasan Maulani Lengkong, Cirebon, seorang Mursyid Thoriqoh Syattariyah. Dan Dari beliaulah, Kyai Nur Hakim berbaiat Thoriqoh.

Dalam sebuah catatan sejarah, disebutkan pula setelah nyantri di Cirebon, Kyai Nur Hakim melanjutkan Tholabul 'Ilmi ke daerah Bogor dan Banten. Disana, beliau juga masuk sebagai pengikut Thoriqoh Rifa'iah.

Setelah sekian lama memperdalam Agama Islam, Kyai Nur Hakim mulai berdakwah ke daerah Banyumas, yg dalam hal ini basisnya berada di Pasir Wetan. Karena mempunyai latar belakang Thoriqoh, Kyai Nur Hakim juga dikenal sebagai penyebar Thoriqoh Syattariyah (ada pula yg menyebut penyebar Thoriqoh Akmaliyah) di wilayah Banyumas.

Perjuangan dakwahnya tidak selalu berjalan mulus, dan banyak menemui rintangan di dalamnya. Misalnya, dalam suatu riwayat, Kyai Nur Hakim pernah menyelenggarakan hajatan khitan putranya. Karena tamu yg datang sangat banyak dan juga berasal dari berbagai daerah, maka beliau pun dicurigai oleh penguasa setempat. Buntutnya, beliau pun harus dipindah ke beberapa tempat. Bahkan tercatat sampai ke Banyuwangi, Jawa Timur.

Walaupun demikian, keteguhan hatinya tetap terjaga. Di tempat pengasingan, Kyai Nur Hakim terus saja berdakwah. Karena keistiqomahannya dalam berdakwah, Pesantren yg didirikannya pun semakin banyak santrinya.

Pengikut atau santrinya berasal dari berbagai wilayah, salah satunya adalah Cikakak, sebuah Desa yg kini masuk dalam wilayah Kecamatan Wangon. Fakta ini diperkuat dg banyaknya peziarah asal Cikakak, seperti yg sudah disinggung diatas. Mereka menyebut jika leluhurnya banyak yg menjadi Santri Kyai Nur Hakim.

Kyai Nur Hakim juga merupakan tokoh Agama yg dikenal sakti mandraguna. Menurut juru kunci Makam, kesaktian Kyai Nur Hakim diantaranya adalah membuat areal sawah dalam waktu semalam dan esoknya bisa dipanen, Membagikan wirid atau hizib atau rajah agar kebal terhadap serangan peluru, dan kisah-kisah lain yg sulit dinalar oleh manusia biasa.

Sebagai 'Ulama yg disibukkan dg mengajar atau berdakwah, Kyai Nur Hakim juga tetap pandai dalam mengelola keuangan. Beliau dikenal memiliki sawah yg luas, dan sumber penghasilan lainnya, sehingga beliau termasuk sebagai 'Ulama paling kaya di Jawa kala itu.

Itulah sedikit sejarah riwayat hidup Kyai Nur Hakim, sebagai salah seorang 'Ulama yg berjasa menghidupkan Agama Islam di daerah Banyumas khususnya. Semoga kita sebagai generasi penerus bisa meneladani perjuangan orang-orang Sholeh terdahulu..Aamiin.

• Wallahu A'lam Bish-Showab •


Referensi:

• Penelusuran Pribadi.
• "Kiai Nurhakim, Ulama Banyumas Masa Kolonial Belanda - NU Online Banyumas" https://nubanyumas,com/kiai-nurhakim-ulama-banyumas-masa-kolonial-belanda/.
• "Sufisme Mbah Nurhakim: Penyebar Tarekat Syattariyah Di Banyumas | Suluk Kebudayaan Indonesia" https://langgar,co/sufisme-mbah-nurhakim-penyebar-tarekat-syattariyah-di-banyumas/.
• "Tabloid Pamor - Pertahankan Budaya Bangsa" https://www,tabloidpamor,com/index-2.php?view=news&syekh-nur-hakim-dalam-jejak-penyebaran-islam-di-banyumas&PMR=VGtSQk1RPT0=.
• "Jampi-jampi Kiai Nurhakim dari Banyumas - PANJI MASYARAKAT Mutiara" https://panjimasyarakat,com/2019/04/24/jampi-jampi-kiai-nurhakim-dari-banyumas/.


✓Jangan Lupa, Selalu Ingat Jas Merah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah) dan Jas Hijau (Jangan Sekali-kali Menghilangkan Jasa Ulama).




Mengenal Sedikit Riwayat Hidup Ki Kebo kenanga, Ayah Jaka Tingkir

Mengenal Sedikit Riwayat Hidup Ki Kebo kenanga, Ayah Jaka Tingkir


Dalam catatan sejarah yg membahas silsilah Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya/Pendiri Kerajaan Pajang), biasanya nama Ki Kebo Kenanga akan disebut. Hal ini karena Ki Kebo Kenanga merupakan ayah dari Jaka Tingkir.

Kelahiran Joko Tingkir atau Mas Karebet disebut-sebut terjadi saat ayahnya, yaitu Ki Kebo Kenanga sedang menggelar pertunjukan Wayang Beber. Saat itu, istrinya yg sedang hamil tua melahirkan seorang putra. Putranya tersebut, oleh Ki Kebo Kenanga dinamai sebagai Mas Karebet. 

Dalam Babad Tanah Jawi, disebutkan jika Ki Kebo Kenanga merupakan putra dari Adipati Jayaningrat, penguasa Pengging di era Majapahit sekaligus menantu dari Prabu Brawijaya V. Dari perkawinannya dg putri Prabu Brawijaya V, Adipati Jayaningrat memiliki 2 orang putra, yaitu Ki Kebo Kanigara dan Ki Kebo Kenanga (versi lain menyebut 3 putra dg tambahan Ki Kebo Amiluhur).

Setelah Adipati Jayaningrat meninggal, kedua putra Jayaningrat saling berselisih. Ki Kebo Kanigara tetap bertahan sebagai pemeluk Agama Hindu/Buddha. Sedangkan Ki Kebo Kenanga menjadi pemeluk Agama Islam.

Sebagai pemeluk Islam, Ki Kebo Kenanga banyak berguru kepada Syekh Siti Jenar, tokoh Wali yg ajarannya dianggap kontroversial. Diantara saudara seperguruannya yaitu Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Butuh, dan Ki Ageng Ngerang.

Sebagai keturunan dari Adipati Jayaningrat yg menguasai Pengging, Ki Kebo Kenanga mewarisi kekuasaan ayahnya tersebut, sehingga ada versi yg menyebutnya sebagai Ki Ageng Pengging II (Adipati Jayaningrat disebut sebagai Ki Ageng Pengging I). 

Di Pengging, Ki Kebo Kenanga berusaha mengembangkan Syari'at Islam di daerahnya. Disana, ia mulai banyak memiliki pengikut, seperti yg dapat terlihat dalam Sholat Jum'at.

Karena merupakan seorang Muslim yg memiliki kekuasaan di Pengging, Ki Kebo Kenanga diperintahkan untuk menghadap ke Demak. Sultan Demak curiga jika ia memiliki niat untuk mendirikan kekuasaan sendiri, atau dalam kata lain ada keinginan untuk menjadi seorang Raja.

Hingga 2 tahun lamanya, Ki Kebo Kenanga tidak kunjung datang menghadap ke Demak. Sehingga, Sultan Demak menyimpulkan jika Ki Kebo Kenanga benar-benar memiliki niat untuk memberontak. Selain itu, ia juga dianggap sebagai seorang penyebar ajaran Syekh Siti Jenar yg dianggap sesat. Sebagai tindak lanjutnya, Sultan Demak mengutus Sunan Kudus ke Pengging untuk menyampaikan murkanya. 

Dalam sebuah riwayat, disebutkan jika Ki Kebo Kenanga meninggal setelah ujung siku yg merupakan titik lemahnya, ditusuk keris oleh Sunan Kudus. Versi lain dalam Serat Siti Jenar, Ki Kebo Kenanga meninggal dg cara serta kemauannya sendiri, bukan dg ditusuk keris oleh Sunan Kudus.

Sebagai penguasa Pengging, Ki Kebo Kenanga dimakamkan di Pengging. Pemakaman tersebut saat ini secara administrasi masuk dalam Kawasan Pengging, Desa Jembung, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali. Karena merupakan penguasa Pengging, ia lebih dikenal sebagai Ki Ageng Pengging, seperti yg tertulis di gapura makamnya.


Referensi:
• Buku Babad Tanah Jawi Karya Soedjipto Abimanyu.
• "Ki Ageng Pengging - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas" https://id,m,wikipedia,org/wiki/Ki_Ageng_Pengging.
• "Makam Ki Ageng Kebo Kenongo" https://www,aroengbinang,com/2017/12/makam-ki-ageng-kebo-kenongo-pengging-boyolali.html?m=1.
 

Rabu, 21 Desember 2022

Asal Mula Kota Gombong, Yang Ternyata Didirikan Oleh Kyai Gombong

Asal Mula Kota Gombong, Yang Ternyata Didirikan Oleh Kyai Gombong


Gombong adalah nama sebuah Kecamatan di Kabupaten Kebumen. Kecamatan Gombong banyak dikenal sebagai daerah Kota terbesar kedua di Kabupaten Kebumen, setelah Kota Kebumen.

Dalam sejarahnya, Gombong sempat menjadi bagian dari Kabupaten Karanganyar (Roma). Setelah Karanganyar digabungkan dg Kabupaten Kebumen, maka Gombong pun menjadi bagian dari Kabupaten Kebumen hingga kini.

Untuk asal-usul nama Gombong sendiri, terdapat beberapa versi, dan salah satu versi yg terkenal menyebut nama Gombong berasal dari nama Kyai Gombong Wijaya.

Dalam versi tersebut, disebutkan jika dahulu pada masa Perang Jawa (1825-1830) nama Desa Gombong belum ada. Yg ada kala itu hanyalah Dusun bernama Giyombong. Dan nama Giyombong, konon berasal dari Kepala Dukuh tersebut, yaitu Kyai Gombong Wijaya.

Kyai Gombong Wijaya sebenarnya berasal dari daerah Banyumas. Beliau merupakan seorang bekas Prajurit Pangeran Diponegoro yg berjuang di daerah Banyumas.

Karena daerah tempat tinggalnya di Banyumas diduduki Belanda, maka ia bersama para pengikutnya menyingkir ke sebuah wilayah tak bertuan di barat Kemit (Karanganyar). Disana, Kyai Gombong bersama para pengikutnya menetap, sehingga terbentuk sebuah dukuh, dg Kyai Gombong sebagai Kepala Dukuhnya.

Seiring berjalannya waktu, banyak para pendatang dan pengungsi yg singgah ke Dukuh Giyombong, baik untuk tinggal sementara ataupun menetap. Para pendatang tersebut, kebanyakan berasal dari daerah-daerah yg sudah tidak aman karena diduduki Belanda.

Kedudukan Belanda di Banyumas, ternyata semakin terdesak. Hingga akhirnya, mereka pun mengambil siasat untuk bertahan di wilayah dekat Dukuh Giyombong.

Di tempat tersebut, Belanda mendirikan sebuah benteng, sebagai tempat berlindung pasukan. Benteng tersebutlah yg saat ini dikenal sebagai Benteng Van Der Wijck.

Untuk mendirikan benteng, Belanda memberlakukan Kerja Rodi atau Kerja Paksa bagi warga Dukuh Giyambong. Kondisi warganya yg sengsara tersebut, menjadikan Kyai Giyombong merasa iba.

Kyai Giyombong kemudian meminta bantuan kepada Pasukan Mataram yg baru saja memenangkan pertempuran dg Belanda di daerah Ayah.

Pasukan Mataram pun menyetujui permintaannya, dan untuk menindaklanjuti, Pasukan Mataram memindahkan markasnya ke sebelah selatan Dukuh Giyombong.

Pertempuran sengit pun akhirnya pecah. Para warga yg tadinya Kerja Rodi, diperintahkan untuk membantu Pasukan Mataram melawan Belanda. Dan akhirnya, Pasukan Belanda mundur ke benteng pertahanannya.

Untuk mengenang jasa Kyai Giyombong dan para warga, Dukuh Giyombong kemudian dijadikan sebuah Kecamatan. Dan Nama Giyombong pun lambat laun terucap sebagai Gombong, hingga sekarang.



Rujukan Utama: 
"Gombong, Kebumen - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas" https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gombong,_Kebumen.

Selasa, 20 Desember 2022

Menilik Sumur Gandeng, Sumur Unik Yang Ada Di Demak

Menilik Sumur Gandeng, Sumur Unik Yang Ada Di Demak


Sumur merupakan suatu lubang yg dalam, dan umumnya dibuat manusia untuk memperoleh atau menampung sumber mata air yg berasal dari dalam tanah.

Biasanya, air yg keluar dari dalam tanah melalui sumur, memiliki rasa air tawar alami. Namun, di sebuah daerah di Demak, ternyata terdapat sebuah sumur unik yg konon memiliki 3 rasa yg berbeda.

Sumur Gandeng namanya. Sumur ini terletak di Desa Bermi, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak. Dinamakan Sumur Gandeng, karena memang sumur di tempat itu ada yg bergandengan.

Sebenarnya, terdapat 3 sumur di tempat cagar budaya ini. Yg dua, bentuknya bergandengan dan hanya bisa digunakan untuk mandi. Sedangkan sumur satunya lagi, terpisah dan khusus digunakan untuk minum.

Seperti yg sudah disinggung diatas, sumur ini memang tergolong unik. Selain terdapat 2 sumur yg strukturnya bergandengan, menurut juru kuncinya, sumur ini juga memiliki rasa dan warna yg berbeda-beda di waktu-waktu tertentu.

Selain itu, Jika pada umumnya di musim kemarau banyak sumur-sumur yg mengalami kekeringan, Sumur Gandeng ini juga konon tak mengenal musim, alias stabil debit airnya.

Masih Menurut informasi dari juru kunci, pada era orde baru atau sekitar tahun 1970 hingga 1980-an, sumur ini kerap kali digunakan sebagai sarana memperoleh kesaktian.

Namun, seiring berjalannya waktu, sumur Gandeng ini juga memiliki khasiat lain, seperti untuk sarana pengobatan, bahkan perjodohan. Tentunya, keistimewaan-keistimewaan diatas dapat terwujud atas ijin dari Alloh SWT.


Rujukan Utama:

https://jateng.suara.com/read/2021/03/18/095437/ada-sumur-gandeng-di-demak-konon-katanya-bisa-sebagai-obat-hingga-jodoh?page=all

Senin, 12 Desember 2022

Benarkah Nama Cilongok Tercipta Pada Masa Kerajaan Pajajaran?

Benarkah Nama Cilongok Tercipta Pada Masa Kerajaan Pajajaran?


Cilongok merupakan salah satu nama Kecamatan yg ada di wilayah Kabupaten Banyumas. Berdasarkan urutan huruf alfabet, nama Cilongok berada di posisi keempat (dari 27 Kecamatan di Banyumas) setelah Ajibarang, Banyumas, dan Baturraden.

Dilihat dari namanya, Cilongok seperti sebuah nama berbau daerah Jawa bagian barat atau Sunda. Namun, untuk saat ini sendiri, justru masyarakat asli Cilongok adalah Suku Jawa, dg Bahasa asli Jawa Banyumasan.

Kecamatan Cilongok saat ini memiliki Pusat Pemerintahan di Desa Pernasidi. Namun, dalam sejarahnya, sebelum Kemerdekaan RI hingga awal-awal Kemerdekaan, Kecamatan ini berpusat di Desa Cilongok. Maka dari itulah nama Kecamatan ini pun menjadi Kecamatan Cilongok.

Terkait asal-usul nama Cilongok sendiri, terdapat beberapa sumber pendapat yg menceritakannya. Pendapat pertama dari Bapak Sunaryo, salah seorang sesepuh Desa Cilongok, mengatakan jika nama Cilongok diberikan karena dahulu terdapat seorang Kakek yg bernama Kaki Cilongok.

Pendapat kedua dari Mas Dedi, tokoh Karang Taruna Desa Cilongok, mengatakan jika Cilongok berasal dari kata Ci- yg berarti Air dan Longok yg berarti Muncul. Sehingga, Cilongok diartikan sebagai Mata Air yg muncul dari dalam tanah.

Pendapat ketiga dikemukakan secara lebih panjang oleh Bapak Risun, salah seorang keturunan dari Bapak Nurya Sentika (Lurah pertama Cilongok). 

Beliau menceritakan, jika dahulu Desa Cilongok adalah Batas wilayah timur dari Kerajaan Pajajaran. Dikarenakan saat itu belum ada penjaga perbatasan wilayah timur Kerajaan, maka Sang Raja membuat sayembara. Siapa yg paling kuat, maka ia berhak menjadi penjaga perbatasan.

Sayembara tersebut kemudian didengar oleh 3 orang bersaudara, yaitu Ki Suramerta, Ki Candrageni, dan Ki Jambe Wangi. Ki Suramerta dan Ki Candrageni cukup berambisi untuk memenangkan sayembara tersebut. Berbeda dg 2 saudaranya itu, Ki Jambe Wangi justru tidak terlalu berambisi.

Ketiganya lantas bertarung adu kekuatan di lokasi yg kini berada di bawah makam Ki Suramerta. Karena pertarungan yg begitu sengit, muncullah ledakan hebat yg membentuk sebuah Kedung yg mengeluarkan air.

Masyarakat yg terkejut mendengar ledakan tersebut, kemudian melongok atau menengok ke tempat kejadian untuk memastikan apa yg terjadi.

Karena saat itu terdapat sebuah mata air baru yg banyak dilihat atau ditengok atau dilongok oleh masyarakat sekitar, maka tempat tersebut kemudian diberi nama Cilongok. Kata Ci diberikan karena adanya munculnya air, sedangkan kata Longok diberikan karena adanya orang-orang yg ramai menengok atau melongok.

Pertarungan tadi dimenangkan oleh Ki Jambe Wangi, sehingga ia berhak menjadi penjaga perbatasan timur Kerajaan. Dan nama Ki Jambe Wangi kemudian dikenal dg nama Ki Cilongok, sesuai nama tempat tersebut.

Berdasarkan penulusuran Google Maps, di Desa Cilongok memang terdapat sebuah pemakaman yg diberi nama TPU Suramerta. Sehingga, jika merujuk pada pendapat ketiga diatas, lokasi tempat pertarungan yg berubah menjadi kedung tersebut, berada di sekitar Dusun Bedolan, Desa Cilongok, Kecamatan Cilongok, Banyumas. Apakah Benar Demikian?


Dari 3 pendapat diatas, penulis sendiri lebih condong pada pendapat ketiga. Sebab, pendapat dari Bapak Risun uraiannya lebih panjang dan juga mencakup apa yg dikemukakan oleh pendapat pertama (Bapak Sunaryo) dan pendapat kedua (Mas Dedi).

Namun, karena dalam cerita tadi disebutkan terjadi pada masa Kerajaan Pajajaran ratusan tahun silam, maka cerita diatas tentunya belum terjamin semua kebenarannya. 


Rujukan Utama:

"profil desa cilongok: Profil desa" http://desacilongok.blogspot.com/2013/09/jjjjjjjjjj.html?m=1

Mengenal Asal-Usul Nama Dan Sejarah Terbentuknya Kabupaten Banjarnegara

Mengenal Asal-Usul Nama Dan Sejarah Terbentuknya Kabupaten Banjarnegara


Banjarnegara merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan penetapan Hari jadinya, Banjarnegara memiliki hubungan erat dg Kabupaten Banyumas. Lantas, bagaimana asal usulnya?

Dalam riwayat berdirinya Kabupaten Banjarnegara disebutkan bahwa dahulu ada seorang tokoh masyarakat yang bernama Kyai Maliu sangat tertarik akan keindahan alam di sekitar Kali Merawu selatan jembatan Clangkap. 

Keindahan tersebut antara lain karena tanahnya berundak, berbanjar sepanjang kali. Sejak saat itu, Kyai Maliu kemudian mendirikan pondok/rumah sebagai tempat tinggal yang baru.

Dari hari ke hari kian ramai dengan para pendatang yang kemudian mendirikan rumah disekitar tempat tersebut sehingga membentuk satu perkampungan. Kemudian perkampungan yang baru dinamai “BANJAR” sesuai dengan daerahnya yang berupa sawah yang berpetak-petak. 

Atas dasar musyawarah penduduk desa baru tersebut Kyai Maliu diangkat menjadi Petinggi (Kepala desa), sehingga kemudian dikenal dengan nama “Kyai Ageng Maliu Petinggi Banjar.

Keramaian dan kemajuan desa Banjar di bawah kepemimpinan Kyai Ageng Maliu semakin pesat tatkala datang 3 Putra Sunan Giri, yaitu Kanjeng Pangeran Giri Wasiat, Panembahan Giri Pit, dan Nyai Sekati yang sedang mengembara dalam rangka syiar agama Islam.

Dibawah kepemimpinannya itulah Desa Banjar semakin berkembang dan ramai. Desa Banjar yang didirikan oleh Kyai Ageng Maliu inilah pada akhirnya menjadi cikal bakal Kabupaten Banjarnegara.

Pemkab Banjarnegara sendiri menetapkan Hari Jadi Banjarnegara jatuh pada 26 Februari 1571 Masehi, yg dikukuhkan dalam Peraturan Daerah Nomor 6 tahun 2019.

Tanggal 26 Februari 1571 menjadi patokan, atas peristiwa diangkatnya Jaka Kaiman pada 22 Februari 1571 (hari jadi Banyumas) oleh Sultan Pajang sebagai Adipati Wirasaba setelah peristiwa terbunuhnya Wargohutomo akibat fitnah Demang Toyareka pada tragedi Sabtu Pahing. 

Saat itu, Jaka Kaiman tidak menyangka diangkat menjadi Bupati Wirasaba menggantikan mertuanya pada 27 Ramadhan 978 H atau 22 Februari 1571. Ia bahkan berangkat ke Pajang dalam rangka mewakili ipar-iparnya yang takut menghadap Sultan Pajang, takut dibunuh sebagaimana Wargo Hutomo. 

Maka wajar dan sadar diri bahwa ia hanya anak menantu, pada saat pertemuan kedua dengan Sultan Pajang pada saat Hari Raya Idul Fitri atau 1 Syawal 978 H, tepatnya pada Senin Pon 26 Februari 1571, Jaka Kaiman mengusulkan untuk membagi Kadipaten Wirasaba menjadi 4, yaitu Wirasaba, Kejawar, Merden (Pamerden) dan Banjar Petambakan.

Dan hal itu pun disetujui oleh Sultan Hadiwijaya, sehingga begitu pulang dan sampai di Wirasaba, ia langsung membagi Wirasaba menjadi empat. 

Ini adalah sebuah fakta pikiran, yang bersumber dari Babad Kalibening dan Babad Banyumas yang sebelumnya telah dijadikan sebagai rujukan penetapan hari jadi Banyumas 22 Februari 1571 atau hanya berselang tiga hari. Tanggal itulah yang dirasa paling tepat dijadikan titi mangsa berdirinya Kabupaten Banjarnegara.

Untuk nama perubahan nama menjadi Banjarnegara sendiri, terjadi pada masa kepemimpinan KRT Dipayudha IV (1831-1846). pada masa ini pusat kekuasaan kembali dipindah ke selatan sungai Serayu, atas ijin Pakubuwana VII. Nama kabupaten pun diubah menjadi Banjarnegara, dengan maksud “Banjar” adalah sawah, telah berubah menjadi kota atau “Negara”.

Sebelumnya, berdasarkan Resolutie Governeur General Buitenzorg tanggal 22 Agustus 1831 Nomor I, Raden Tumenggung Dipoyudho IV resmi menjabat Bupati Banjar Watulembu. Isi dari resolusi itu antara lain dibentuknya 4 Kabupaten baru selain Banyumas, yaitu Kabupaten Banjarnegara, Majenang, Ajibarang, dan Purbalingga. Maka dari itu, sebelumnya Tanggal 22 Agustus tersebut, pernah dijadikan patokan Hari Jadi Banjarnegara.

Berdasarkan catatan sejarah pada paragraf diatas, diketahui juga jika sebelum bernama Banjarnegara, Kabupaten ini memang memiliki nama Banjar Watulembu, yg dimulai di era kepemimpinan Raden Mangunyudho II. Dimana kala itu, pusat Kabupaten dipindahkan ke sebelah Barat Sungai Merawu.


Rujukan Utama:

https://banjarnegarakab.go.id/main/pemerintahan/profil/.

https://lama.banjarnegarakab.go.id/index.php/berita/politik/1083-menguak-asal-mula-kabupaten-banjarnegara


Minggu, 11 Desember 2022

Kisah Kesaktian Joko Tingkir Yang Kebal Senjata Tajam Dan Ditakuti Binatang Buas

Kisah Kesaktian Joko Tingkir Yang Kebal Senjata Tajam Dan Ditakuti Binatang Buas


Dalam dunia sejarah Indonesia, Joko Tingkir termasuk sosok yg paling sering dibahas, bahkan sampai pernah difilmkan. Tokoh yg bernama asli Mas Karebet ini merupakan pendiri sekaligus Raja pertama Kesultanan Pajang, yg bergelar Sultan Hadiwijaya.

Joko Tingkir merupakan sosok yg dikenal sakti mandraguna. Bahkan, dalam Buku Babad Tanah Jawi, disebutkan jika Joko Tingkir adalah salah satu dari 3 tokoh sakti pada era akhir Kesultanan Demak, selain Sunan Prawoto dan Arya Penangsang

Hal ini tidak aneh memang, karena Joko Tingkir sejak masih diasuh Nyai Ageng Tingkir pun sudah dikenal gemar menyepi serta bertapa dalam waktu yg lama, baik di hutan, gua, hingga gunung.

Selain bertapa, Joko Tingkir muda dikenal juga suka berguru Agama Islam dg beberapa tokoh Guru terkenal, seperti Ki Ageng Selo dan Sunan Kalijaga.

Saat dewasa, Joko Tingkir dikenal sebagai sosok yg kebal berbagai senjata tajam. Hal ini pernah dibuktikan ketika Joko Tingkir ditikam oleh 4 orang suruhan Arya Penangsang. Dan ternyata, Joko Tingkir tidak terluka sedikit pun. 

Selain dikenal kebal dari berbagai senjata tajam, Joko Tingkir juga dikenal ditakuti oleh berbagai binatang buas. Hal ini pernah dibuktikan dalam kisahnya yg berhasil menaklukkan kawanan buaya dan kerbau gila.

Kisah tersebut bermula saat rombongan Joko Tingkir menyusuri Sungai Kedung Srengenge menggunakan rakit. Dari sungai tersebut, muncullah kawanan buaya (ada yg menyebut siluman buaya) menyerang mereka. 

Namun, akhirnya puluhan buaya tersebut dapat ditaklukkan oleh Joko Tingkir. Bahkan, akhirnya kawanan buaya itu membantu mendorong rakit sampai tujuan.

Pementasan Kisah Joko Tingkir / ©soloevent.id

Sedangkan kisah Joko Tingkir menaklukkan Kerbau gila, bermula saat Sultan Trenggono sekeluarga sedang berwisata di Gunung Prawoto.

Saat itu, Joko Tingkir melepas seekor kerbau gila yg dinamakannya sebagai Kebo Danu, dan sudah diberi mantra berupa tanah kuburan pada telinganya. Alhasil kerbau tersebut mengamuk menyerang Pesanggrahan raja, dan tidak ada prajurit yg sanggup melawannya.

Joko Tingkir pun tampil bak seorang pahlawan menghadapi Kerbau Gila itu. Dan lagi-lagi, Ia pun dapat mengalahkannya dg tanpa kesusahan. Sultan Trenggono pun akhirnya bersimpati serta mengangkatnya kembali menjadi Lurah Wiratamtama.

Dibalik kesaktiannya tersebut, ternyata disebutkan jika Joko Tingkir memiliki sebuah pusaka berupa Timang atau kepala ikat pinggang yg dikenal dg nama Kyai Bajulgiling.

Kyai Bajulgiling tersebut, konon adalah milik Kyai Buyut dari Banyubiru, yg diberikan kepada Joko Tingkir dalam pengabdiannya di Kesultanan Demak, yg kemungkinan akan menemui banyak hambatan.

Timang Kyai Bajulgiling tersebut menurut Babad Pengging, konon dibuat dari Bijih Baja Murni yg diambil dari dalam gumpalan magma lahar Gunung Merapi.

Dari kekuatan alami yg dimiliki oleh inti bijih baja murni, serta rajah berkekuatan ghaib yg diguratkan Kyai Banyubiru di seputar timang tersebut, maka siapa saja yg memakai Kyai Bajulgiling ia akan kebal dari berbagai senjata tajam dan ditakuti oleh berbagai binatang buas.

Lantaran pusaka Kyai Bajulgiling tersebutlah, kesaktian Joko Tingkir menjadi bertambah, dan sudah beberapa kali dibuktikan seperti yg telah diceritakan dalam kisah diatas tadi.


Rujukan Utama: 

Buku Babad Tanah Jawi Karya Soedjipto Abimanyu.


Sabtu, 10 Desember 2022

Cerita Syekh Atas Angin, Tokoh Yang Konon Memberikan Nama Gunung Slamet

Cerita Syekh Atas Angin, Tokoh Yang Konon Memberikan Nama Gunung Slamet

Nama Syekh Atas Angin atau Mbah Atas Angin biasanya akan muncul jika kita membahas Sejarah atau Asal-Usul nama tempat di kawasan Gunung Slamet dan sekitarnya, seperti Watukumpul, Belik, dan lain sebagainya.

Dalam sebuah versi, nama-nama tersebut konon diambil berdasarkan perjalanan dari Syekh Atas Angin. Lantas, siapa sebenarnya Syekh Atas Angin?

Ada yg menyebut Syekh Atas Angin memiliki nama asli Syekh Maulana Maghribi. Beliau konon adalah seorang mubaligh atau penyebar agama Islam yg berasal dari sebuah Negeri di Timur Tengah (ada yg menyebut Turki).

Asal mula beliau datang ke Tanah Jawa, konon karena mengikuti sebuah cahaya misterius yg menjulang ke angkasa. Karena melihat cahaya tersebut, Syekh Maulana Maghribi bersama Haji Datuk, dan para pengikutnya, sepakat untuk mengikuti keberadaan cahaya tersebut, hingga akhirnya sampailah keduanya di Tanah Jawa.

Pada awal sampai di Pulau Jawa, mereka berlabuh di sekitar Pantai Gresik, Jawa Timur. Namun, cahaya tersebut terlihat di arah barat. Maka, keduanya pun melanjutkan perjalanan, hingga sampailah di sekitar Pantai Pemalang.

Sesampainya disana, pengikut yg lain diperintahkan untuk kembali ke negerinya, sehingga Syekh Maulana Maghribi hanya ditemani oleh Haji Datuk. Dari situ, keberadaan cahaya terlihat berada di sekitar sebelah selatan. 

Mereka pun terus mengikuti arah cahaya tersebut dg menembus hutan belantara serta berbagai Medan yg tidak bisa dibilang mudah. Karena merasa letih, mereka pun beristirahat sejenak.

Di tempat istirahat itu, mereka termenung sambil merasakan lelahnya perjalanan serta mengingat kewajibannya untuk menyebarkan Agama Islam. Tempat mereka yg diliputi pikiran dan perasaan tersebut, di kemudian hari dikenal dg nama Paduraksa (nama Kelurahan di Pemalang).

Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan lagi, hingga sampai di hutan belukar, sembari singgah diatas tonggak pohon randu yg tumbang. Dan di kemudian hari, tempat tersebut dikenal dg nama Randudongkal (nama Kecamatan di Pemalang).

Dari tempat tersebut, keduanya melanjutkan perjalanan mencari asal cahaya misterius. Hingga sampailah keduanya di sebuah sendang atau kolam. Di dekat sendang tersebut, keduanya kemudian melaksanakan Sholat. Dan di kemudian hari, tempat tersebut dikenal dg nama Belik (nama Kecamatan di Pemalang).

Setelah melaksanakan Sholat, keduanya meneruskan perjalanan hingga sampai di sebuah tempat yg memiliki banyak bebatuan. Di tempat tersebut, keduanya pun beristirahat sambil terus memikirkan perjalanan selanjutnya. Karena terdapat banyak bebatuan, tempat tersebut di kemudian hari dikenal dg nama Watukumpul (nama Kecamatan di Pemalang)

Setelah menempuh perjalanan panjang, Akhirnya sampailah mereka ke tempat yg dituju, yg ternyata berada di puncak gunung. Dari situ, diketahui jika cahaya terang misterius yg menjulang ke angkasa ternyata berasal dari seorang petapa Buddha yg bersandar di pohon jambu (versi lain menyebut asal cahaya berasal dari tempat/gunungnya). 

Petapa tersebut kemudian memeluk Agama Islam setelah adu kesaktian dg Syekh Maulana Maghribi, dan namanya pun kemudian dikenal dg Syekh Jambu Karang.

Selanjutnya, Syekh Maulana Maghribi bermukim lama di suatu tempat bernama Banjar Cahayana. Di tempat tersebut, beliau menderita penyakit gatal di sekujur tubuhnya. 

Karena begitu sulit disembuhkan, Syekh Maulana Maghribi kemudian Sholat dan memohon petunjuk kesembuhan kepada Allah SWT. Setelah berdoa, akhirnya beliau mendapatkan ilham agar pergi ke Gunung Gora (nama lama Gunung Slamet dalam suatu versi).

Syekh Maulana Maghribi dg ditemani dg Haji Datuk, akhirnya pergi ke Gunung Gora. Setelah sampai ke lereng Gunung Gora, Syekh Maulana Maghribi memerintahkan agar Haji Datuk meninggalkannya, dan beristirahat di tempat yg lebih datar. 

Akhirnya, Syekh Maulana Maghribi meneruskan perjalanan seorang diri menuju tempat kepulan asap. Setelah sampai, diketahui jika kepulan asap tersebut berasal dari sumber air panas. Sumber air panas itulah yg dijadikan sebagai obat gatal, hingga penyakit beliau pun menjadi sembuh. Karena mempunyai 7 mata air, maka dinamailah oleh beliau Pancuran Pitu.

Selanjutnya, Gunung Gora pun dinamainya dg nama Gunung Slamet, dimana Slamet sendiri berasal dari kata dalam Bahasa Arab, 'Salamat', yg berarti Keselamatan.

Selama Syekh Maulana Maghribi berada di Pancuran Pitu, ternyata Haji Datuk masih setia berada di tempat yg beliau perintahkan. Maka dari itu, Haji Datuk kemudian diberi julukan Haji Datuk Rusuladi. Rusuladi sendiri berarti Batur yg Baik (Adi). Dari nama Batur Adi tersebutlah konon tercipta nama Baturraden hingga sekarang.

Di kemudian hari, Syekh Maulana Maghribi dikenal sebagai Syekh Atas Angin, karena beliau berasal dari tempat yg jauh. Dan makamnya (ada yg menyebutnya petilasan) kini dapat ditemui di dekat Pancuran Pitu, Baturraden.


Rujukan Utama:

- "Legenda Baturraden" https://www.menggapaiangkasa.com/2014/02/legenda-baturraden.html?m=1.

- https://kabarjoglosemar.pikiran-rakyat.com/wisata/amp/pr-73731674/menilik-mitos-makam-mbah-atas-angin-dan-pancuran-pitu-di-baturaden.



Jumat, 09 Desember 2022

Walaupun Bernama Soto Sokaraja, Soto Khas Banyumas Ini Tak Hanya Ada Di Sokaraja

Walaupun Bernama Soto Sokaraja, Soto Khas Banyumas Ini Tak Hanya Ada Di Sokaraja

 


Sokaraja merupakan nama sebuah Kecamatan di Kabupaten Banyumas. Letaknya bersebelahan dg Wilayah Eks Kota Administratif Purwokerto. Sehingga, tidak sedikit pula orang yg menyebut Sokaraja sebagai wilayah Purwokerto.

Bagi orang-orang yg berkunjung ke Purwokerto ataupun berwisata di kawasan Baturraden, Banyumas, biasanya mereka menyempatkan diri berkunjung ke Sokaraja untuk membeli berbagai oleh-oleh khas Banyumas.

Tidak dipungkiri, Di Sokaraja memang banyak ditemui toko oleh-oleh kuliner khas Banyumas. Kawasan pertokoan tersebut berada di sepanjang jalan pusat keramaian Sokaraja. Salah satu kuliner khas yg banyak dijual dan jadi incaran pengunjung adalah Soto Sokaraja.

Soto Sokaraja adalah salah satu dari banyaknya varian soto yg ada di Indonesia. Orang-orang di daerah Banyumas, lebih banyak menyebut Soto Sokaraja dg istilah Sroto Sokaraja.

Ciri khas yg membedakan Soto Sokaraja dg soto lainnya adalah bumbunya yg menggunakan sambal kacang. Karena adanya sambal bumbu kacang yg dicampur dg kecap dan bumbu tambahan lainnya, kuah yg dihasilkan pada Soto Sokaraja pun cenderung berwarna keruh kecoklatan. 

Isian yg biasa ditambahkan pada Soto Sokaraja adalah ketupat, potongan daging ayam atau sapi, kecambah hijau, daun bawang, bawang goreng, dan juga tambahan kerupuk

Sebagai kuliner khas Banyumas, biasanya dalam sebuah meja makan yg menyandingkan Soto Sokaraja, akan ada tambahan kuliner khas Banyumas lain berupa Tempe Mendoan sebagai pelengkapnya.

Soto Sokaraja Bersama Tempe Mendoan Dalam Satu Meja

Walaupun embel-embelnya menggunakan nama daerah Sokaraja, namun bukan berarti Soto Sokaraja eksklusif di daerah Sokaraja saja. Soto Sokaraja juga mudah ditemui di berbagai wilayah lain di Kabupaten Banyumas, serta di Kabupaten tetangga, seperti Purbalingga.

Selain itu, Soto Sokaraja juga kerap ditemui di berbagai daerah di Indonesia. Biasanya, para perantau dari daerah Banyumas lah yg membawa kuliner tersebut ke sana. 

Warung Soto Sokaraja di Karawang

Mereka yg memiliki keahlian dalam bidang kuliner, biasanya akan membuka usaha berupa warung makan khas Banyumas, yg didalamnya ditemui Soto Sokaraja, Tempe Mendoan, dan lain sebagainya.

Sehingga, secara tidak langsung para perantau tersebut turut memperkenalkan sekaligus melestarikan keberadaan kuliner lokal khas Banyumas ditengah gempuran arus globalisasi yg banyak mengikis kebudayaan lokal.


Rujukan Utama:

- "Sroto Sokaraja - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas" https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sroto_Sokaraja.

- "Sroto Sokaraja Khas Banyumas, Sejarah dan Resepnya" https://id.theasianparent.com/sroto-sokaraja/amp.


Sunan Prawoto, Tokoh Wali Sekaligus Raja Keempat Kerajaan Demak

Sunan Prawoto, Tokoh Wali Sekaligus Raja Keempat Kerajaan Demak

 


Dalam sejarah Kerajaan Demak, ada sebuah tempat di Kabupaten Pati yg menjadi daerah penting bagi Kerajaan Islam di Jawa yg berdiri di abad 15 tersebut. Tempat tersebut bernama Bukit Prawoto. 

Saat Kerajaan Demak dipimpin oleh Raja keempatnya, yaitu Raden Mukmin, pusat pemerintahan Demak dipindah dari Bintoro ke Bukit Prawoto. Maka dari itu, Raden Mukmin lebih dikenal dg sebutan Sunan Prawoto.

Sunan Prawoto memiliki nama asli Raden Mukmin atau dalam Kronik Cina disebut dg Muk Ming. Beliau merupakan putra tertua dari Raja Demak ketiga, yaitu Sultan Trenggono.

Sepeninggal ayahnya, Sunan Prawoto menjadi pewaris tahta sebagai Raja Demak. Sebagai Raja keempat, Beliau memerintah Kerajaan Demak dalam waktu yg relatif singkat, yaitu sekitar tahun 1546 hingga 1549. 

Sebenarnya, Sunan Prawoto merupakan sosok yg pandai berpolitik dan berperang. Beliau pun berambisi melanjutkan usaha ayahnya untuk menaklukkan seluruh Pulau Jawa. Namun, setelah dilantik sebagai Raja, Sunan Prawoto justru lambat laun lebih suka hidup sebagai 'Ulama, dan mengesampingkan kedudukannya sebagai seorang Raja.

Alhasil, bukannya menambah kejayaan Kerajaan Demak, Sunan Prawoto justru malah membawa kemunduran pesat bagi Kerajaan tersebut. Satu persatu daerah bawahan peninggalan ayahnya pun melepaskan diri dari Kerajaan Demak.

Selain faktor tersebut, ada faktor lain yg sangat berpengaruh bagi runtuhnya Kerajaan Demak, yaitu ajang balas dendam Perebutan Kekuasaan. 

Dalam sejarah Kerajaan Demak, perebutan kekuasaan sudah dimulai sepeninggal Pati Unus, Raja kedua Demak. Kala itu, dua adik Pati Unus (Raden Kikin dan Raden Trenggono) memperebutkan tahta menjadi Raja ketiga Demak.

Dalam perebutan tahta tersebut, Raden Mukmin membela ayahnya, Raden Trenggono. Sunan Prawoto muda itu pun mengirim pembantunya bernama Ki Surayat, untuk membunuh Raden Kikin.

Sepulang Sholat Jum'at, Raden Kikin atau Pangeran Surowiyoto berhasil terbunuh di pinggir sungai. Karena itu, beliau juga dijuluki sebagai Pangeran Sekar Seda Ing Lepen.

Pangeran Seda Ing Lepen memiliki putra bernama Arya Penangsang. Dan sosok Arya Penangsang lah tokoh dibalik wafat sekaligus lengsernya tahta Sunan Prawoto.

Arya Penangsang disebut masih menyimpan dendam kepada Sunan Prawoto, karena Sunan Prawoto lah tokoh dibalik terbunuhnya Raden Kikin (ayah Arya Penangsang).

Sekitar tahun 1549, Arya Penangsang mengutus anak buahnya bernama Rangkud untuk membalaskan dendamnya dg membunuh Sunan Prawoto.

Saat itu, Rangkud berhasil menyusup ke dalam kamar tidur Sunan Prawoto. Di hadapan Rangkud, Sunan Prawoto mengakui kesalahannya, karena dahulu telah membunuh Pangeran Seda Ing Lepen. Beliau pun rela dihukum mati, asalkan keluarganya diampuni. Rangkud pun menyetujui syarat tersebut.

Dg tanpa perlawanan, oleh Rungkad, dada Sunan Prawoto berhasil ditikam hingga tembus ke belakang . Namun naas, dibalik punggung Sunan Prawoto ternyata ada istrinya yg sedang berlindung. Istrinya pun tewas dalam kejadian tersebut.

Melihat istrinya tewas, Sunan Prawoto pun menjadi marah. Dg sisa-sisa tenaganya, Sunan Prawoto sempat membunuh Rungkad. Sehingga, berdasarkan cerita tersebut, tiga orang telah tewas dalam waktu yg hampir bersamaan.

Walaupun Sunan Prawoto sudah terbunuh, namun Arya Penangsang tidak berhasil menguasai Demak, karena ia tewas dalam perang melawan Joko Tingkir (menantu Sultan Trenggono) yg berasal dari Pengging. Maka dari itu, dalam banyak versi sejarah, Sunan Prawoto disebut sebagai Raja keempat sekaligus Raja terakhir Kerajaan Demak.

Jasad Sunan Prawoto kemudian dimakamkan di Bukit Kamdowo, yg saat ini masuk dalam wilayah Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati.

Gapura Masuk Desa Prawoto

Makam Sunan Prawoto

Karena merupakan seorang Raja sekaligus tokoh wali penyebar Agama Islam di daerah tersebut, makam Sunan Prawoto pun hingga kini banyak diziarahi orang dari dalam maupun luar daerah.



Rujukan Utama:

- Buku Babad Tanah Jawi Edisi Soedjipto Abimanyu.

- "Sunan Prawoto - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas" https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sunan_Prawoto.

- "Biografi Sunan Prawoto ( Sultan Demak Bintoro ke IV ) | Profil Ulama › LADUNI.ID - Layanan Dokumentasi Ulama dan Keislaman" https://www.laduni.id/post/read/517019/biografi-sunan-prawoto-sultan-demak-bintoro-ke-iv


Selasa, 06 Desember 2022

Mengenal Sambatan, Tradisi Gotong-Royong Yang Mulai Tertelan Zaman

Mengenal Sambatan, Tradisi Gotong-Royong Yang Mulai Tertelan Zaman

 

Manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk sosial, yaitu makhluk yg tidak bisa hidup sendiri atau makhluk yg pastinya membutuhkan orang lain. Hubungan interaksi antar manusia disebut juga dg istilah Sosialisasi.

Salah satu bentuk positif hubungan antar manusia adalah adanya budaya gotong-royong. Di Indonesia sendiri, terdapat berbagai istilah untuk menyebut kegiatan gotong-royong. Salah satunya adalah Sambatan.

Sambatan merupakan sebutan istilah kegiatan gotong-royong, khususnya di daerah Pulau Jawa, dalam hal ini termasuk Provinsi Jawa Tengah dan D.I.Yogyakarta.

Secara bahasa, Sambatan berasal dari kata Sambat, yg berarti meminta pertolongan atau bantuan kepada orang lain. Secara umum, Sambatan diartikan meminta pertolongan kepada orang lain yg bersifat massal untuk membantu seseorang yg sedang memiliki keperluan atau terkena musibah.

Namun, di daerah Suku Jawa khususnya, istilah Sambatan biasanya identik dalam kegiatan gotong-royong membangun rumah (ngedekke omah) salah seorang warga. Sedangkan istilah lainnya, tergantung isi gotong royong, misalnya Rewang (gotong-royong saat ada yg hajatan).

Tradisi Sambatan, untuk saat ini masih banyak dilakukan masyarakat khususnya di daerah pedesaan. Bentuk kegiatan di dalamnya bermacam-macam, ada menaikkan genteng, merobohkan rumah, memasang bagian-bagian rumah hingga mendirikannya sebagai rumah utuh.

© Via Kompasiana

Biasanya, sambatan diikuti oleh orang-orang dalam satu RT atau area tertentu. Sebelum atau sesudahnya, biasanya juga diadakan doa bersama atau istilah yg biasanya dipakai adalah Slametan / Genduren.

Karena merupakan bentuk gotong-royong, umumnya Orang-orang yg mengikuti Sambatan, tidak diberi upah berupa uang sama sekali. Sebagai gantinya, tuan rumah menyediakan berbagai macam konsumsi hingga makan bersama di akhir kegiatan. 

Di beberapa tempat, ketika ada salah seorang warga yg mengadakan Sambatan,  diadakan pula tradisi Nyumbang. Yaitu, tradisi yg hampir sama dg Kondangan, namun tujuan utama sebenarnya adalah untuk meringankan warga tersebut.

Kesimpulannya, Sambatan adalah perwujudan dari hakikat manusia yg merupakan Makhluk Sosial. Di dalamnya, manusia memperlihatkan jatidirinya sebagai makhluk yg membutuhkan bantuan orang lain. 

Namun, seiring dg semakin berkembangnya teknologi di zaman sekarang, menyebabkan tidak sedikit orang yg mulai bersikap individualistis. Hal ini bisa kita temui di kehidupan perkotaan yg sudah mulai jarang muncul Tradisi Sambatan.


Dirangkum Dari Berbagai Sumber.